Langsung ke konten utama

Seni Menghadapi Derita


Penderitaan merupakan bagian yang telah menyatu dengan dinamika kehidupan manusia. Uang yang banyak, asset berlimpah, tubuh yang sehat, karir yang gemilang, usaha yang sukses, cara hidup yang baik, ketekunan berdoa, dan lain sebagainya tidak pernah bisa secara total membebaskan manusia dari yang namanya penderitaan. Ada saja saatnya kita mengalami derita. Mengapa demikian? Karena sepanjang hidupnya manusia selalu mempunyai keinginan, dan penyebab utama derita adalah keinginan. Manusia mempunyai keinginan bermacam-macam dan selalu baru sepanjang hidupnya. Hari ini satu keinginannya terpenuhi, besok dia mempunyai keinginan lain lagi.  Bahkan ada keinginan yang sudah terpenuhi tapi dia mau alami lagi. Misalnya keinginan untuk makan, minum, berwisata, berhubungan sex, dll. Jadi, manusia tidak akan bisa terhindar dari penderitaan akibat dari keinginannya itu. Apa hubungan keinginan dan penderitaan? Bukankah tercapainya suatu keinginan justru membuat manusia bahagia?

Benar bahwa di satu sisi tercapainya suatu keinginan akan membuat seseorang mengalami bahagia, tapi di sisi lain terwujudnya suatu keinginan dapat juga menimbulkan penderitaan apabila keinginan itu memiliki akibat buruk.  Misalnya ingin sex bebas bisa menimbulkan PMS. Ingin merokok dan mengonsumsi minuman keras berlebihan bisa merusak kesehatan tubuh. Bukan hanya itu, dalam proses untuk menggapai keinginan juga seseorang sering mengalami penderitaan. Misalnya seseorang yang ingin mendapatkan uang, ia harus bekerja selama 8 jam dalam sehari. Secara fisik ia pasti lelah, yang membuatnya menderita. Artinya sebelum ia mendapatkan uang, ia terlebih dahulu menderita. Selain penderitaan dalam proses suatu usaha untuk mewujudkan keinginan, penderitaan juga selalu terjadi ketika keinginan kita tidak sesuai dengan kanyataan atau hasil yang terjadi. Kita ingin sehat tapi entah kenapa tiba-tiba kita mengidap penyakit tertentu. Kita ingin disenangi orang lain, tapi ada saja orang-orang yang membenci kita.  Di situlah titik penderitaan kita. Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita berpasrah saja dengan hukum penderitaan itu?

Saya pikir kita perlu untuk tidak larut dalam penderitaan. Itu yang penting. Kita memang tidak bisa membuat diri kita tidak lagi mengalami penderitaan dalam hidup. Yang bisa kita lakukan hanyalah membuat penderitaan itu tidak berlangsung lama dan mencegah terjadinya banyak penderitaan. Artinya kalau kita sedang berada pada titik derita, kita harus segera keluar dari titik itu. Lalu kita juga berusaha untuk tidak mengikuti keinginan-keinginan yang hasilnya justru membuat kita banyak menderita. Bagaimana caranya? Menurut saya ada tiga cara. Pertama, membiarkan emosi atau rasa yang menghasilkan derita itu terjadi tapi tidak membuat analisis berlebihan. Kita jangan terpancing untuk overthinking atas penderitaan. Kita jangan terus-menerus ‘mengucak’ derita kita. Biarkan kita mengalaminya dan mengambil makna secukupnya saja. Dalam tempo singkat jika kita tidak lagi menghiraukannya atau tidak lagi menanggapinya secara berlebihan, derita itu akan lenyap dari perasaan dan pikiran kita.

Kedua, bersiap dan terbuka pada apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Terutama kita harus siap menyambut kenyataan yang berbeda dari keinginan dan harapan kita. Sikap menolak tidak boleh kita miliki. Tanamkan dalam pikiran bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan kita merupakan bagian seharusnya dari kehidupan itu sendiri. Walaupun yang terjadi merupakan akibat dari kesalahan kita dan kesalahan orang lain yang sebenarnya bisa kita cegah, mestinya kita menerima kenyataan itu apa adanya. Katakan dalam diri bahwa ini adalah kenyataan hidup saya yang harus saya terima. Percayalah, di saat itu derita batin kita akan datang sekejap saja lalu pergi.

Ketiga, jangan menginginkan hal-hal yang berakibat buruk. Kemampuan untuk memilah mana keinginan yang penting dan berakibat baik harus kita tumbuhkan dalam diri kita supaya kita tidak jatuh pada penyesalan yang berbuah derita. Pengalaman diri sendiri dan pengalaman orang lain bisa menjadi informasi bagi kita untuk mengetahui akibat dari sebuah keinginan. Kalau dalam pengalaman, akibat dari keinginan itu buruk maka jangan dikejar. Jika apa yang kita inginkan itu tidak mempunyai referensi pengalaman masa lalu kita maupun pengalaman orang lain, kita bisa coba menebak atau mengira-ngira akibatnya supaya tidak menimbulkan derita nantinya.

Akhirnya sekali lagi kita harus sadar dan mengakui bahwa penderitaan adalah bagian dari kehidupan kita. Diri kita tidak akan bisa bebas sepenuhnya dari kehadiran derita. Kita hanya bisa membuat derita tidak singgah lama dan kita bisa mengurangi jumlah derita dalam kehidupan kita. Katakan selamat datang pada derita lalu secepatnya juga katakan selamat jalan derita.


Komentar