Ini sebuah cerita, yang barangkali di dalamnya tersirat pesan bernilai untuk kita. Cerita yang mengisahkan tentang saya, orang lain, dan ciptaan Tuhan lainnya yang saya jumpai setelah saya memutuskan untuk bangun dari tidur pada pukul 05.00. Waktu yang masih pagi, bukan? Sebenarnya saya belum mau turun dari tempat tidur pada jam itu. Saya hampir tergoda untuk tidur lagi saat saya mendengar bunyi hujan yang menitik di atas atap rumah. Suasana yang biasanya sangat enak kalau tidur. Namun belum sempat saya tidur lagi, hujan sudah reda. Ternyata ia cuma turun sesaat. Akhirnya saya memutuskan untuk bangun dari tempat tidur. Seperti biasa saya membuat tanda salib dan mengucapkan sepotong doa singkat sebelum berlangkah keluar dari kamar. Entah penting atau tidak menurut banyak orang, tapi saya telah diajarkan untuk menjadikan iman sebagai fondasi hidup setiap hari. Iman itu harus diungkapkan, dan ungkapan iman adalah doa. Itu teorinya dan setiap hari saya terus berusaha untuk mempraktekkannya meskipun sering juga lupa dan tidak sempat. Namun saya tetap yakin Tuhan tidak pernah lupa memberkati saya.
Sejak malam sebelum tidur, saya sudah berencana untuk lari pagi pada pukul 05.30. Untuk itu setelah doa pagi saya langsung membuka pintu rumah guna mengecek cuaca, apakah kondusif untuk lari pagi. Hujan memang sudah reda, hanya jalanan terlihat sedikit basah. Menurut saya cuaca itu aman. Setelah minum segelas air putih dan memakai sepatu, saya mulai lari pagi. Awalnya terasa agak dingin karena baru saja hujan mengguyur. Lama-kelamaan hangat dan pori-pori tubuh saya mulai mengeluarkan keringat. Segar sekali rasanya. Apalagi sambil menghirup udara pagi yang masih bersih. Kendaraan belum ramai. Sedikit terdengar di kejauhan bunyi truk melintas di jalan besar untuk mengangkut barang-barang. Sedangkan di jalan tempat saya lari pagi hampir belum ada satupun kendaraan yang melintas. Saya berlari santai sambil melihat-lihat hijaunya pepohonan yang sengaja ditanam di tengah-tengah dua jalur jalan. Di kiri-kanan jalan juga terdapat hamparan sawah dengan padinya yang menghijau. Sungguh membuah hati damai. Mereka seakan sedang memberikan senyuman termanis untuk saya di pagi buta sebelum matahari bersembul di ufuk Timur. Saya hampir tidak mau pergi dari keadaan itu. Dalam hati saya bergumam, ini semua adalah rahmat gratis yang siap menanti kedatangan saya. Mereka tidak pergi saat saya mendekat. Mereka seperti tau bahwa saya membutuhkan mereka. Tapi saya sadar bahwa saya harus pergi dari situ untuk mulai berkarya. Berkat Tuhan melalui suasana itu harus mendorong saya untuk pergi membagi berkat dalam karya saya sepanjang hari.
Akhirnya saya pulang sambil tetap berlari santai dan menikmati langkah kaki yang saya ayunkan. Saya bersyukur karena kedua kaki saya masih kuat menopang tubuh saya. Tidak ada alasan untuk saya tidak bersyukur atas keadaan ini karena betapa banyak orang di dunia ini yang saat ini hanya ada di kursi roda atau berjalan tanpa kaki akibat cacat dan sakit. Sembari merenungkan itu, tiba-tiba saya dikejutkan dengan bunyi beberapa botol air mineral kosong yang jatuh persis di tengah jalan. Saya menoleh dan mendapati seorang ibu tua dengan karung yang sedang digendongnya. Botol-botol kosong itu jatuh dari mulut karungnya. Spontan saya coba memungut botol-botol itu untuk membantu si ibu. Terlihat senyum memancar dari mukanya sambil ia mengucapkan terima kasih sebelum ia melanjutkan perjalanannya. Tubuhnya sudah membungkuk, mungkin karena usianya yang makin renta. Ditambah lagi setiap hari ia terus menggendong karung botol-botolnya. Tanpa diberitahu si ibu, saya yakin ia seorang pemulung. Pekerjaan yang kotor tapi sangat mulia, sangat penting, dan sangat bermanfaat meskipan sebagian orang kadang menuduh mereka 'mencuri' barang-barang yang masih baik. Entahlah. Tapi si ibu tua itu luar biasa. Di saat kebanyakan orang masih menarik selimut karena belum saatnya untuk bangun, ibu tua itu sudah menarik karungnya untuk memungut setiap botol kosong di mana saja ia melihatnya, terutama di pinggir jalanan dan di kotak sampah depan setiap rumah. Ia menyiapkan jalanan agar terlihat bersih sebelum dilalui orang-orang. Ia memelihara lingkungan supaya tetap menyehatkan orang-orang. Ia membaktikan masa tuanya supaya orang-orang juga bisa sehat sampai tua seperti dirinya.
Tak terasa, saya sudah sampai di rumah. Waktu menunjukkan pukul 06.00. Saya harus segera berkarya.
Komentar
Posting Komentar