Langsung ke konten utama

Sekolah Yang Membahagiakan


Terus terang saya sering merasa sengsara di samping juga merasa bahagia selama bersekolah. Saya merasa sengsara ketika saya diharuskan untuk mempelajari berbagai mata pelajaran yang tidak saya sukai, atau saat mengerjakan pekerjaan rumah, saat menghadapi ujian, dan saat harus tampil di depan umum untuk berbicara. Saya tidak bisa terhindar dari hal-hal tersebut karena semua sekolah tempat saya bersekolah mempunyai sistem begitu. Itu semacam ‘kutukan’ yang mau tak mau harus saya terima. Untunglah saya juga sempat merasakan pengalaman bahagia selama bersekolah. Misalnya saat saya mendapat nilai ulangan atau ujian yang bagus, apalagi kalau saat mendapat ranking kelas. Bahagianya sungguh luar biasa. Saya juga bahagia saat bisa bermain dengan teman-teman pada jam istrahat. Lebih dari itu, yang paling terasa bahagia adalah ketika sudah mengenal jatuh cinta dan bila setiap hari berjumpa dengan dia yang saya sukai di sekolah. Bahagianya melampau segala kebahagiaan lain. 

Jika dilihat dengan cermat, hal-hal yang membuat saya bahagia itu justru sebenarnya bukan merupakan bagian pokok dari proses sekolah. Sebaliknya hal-hal pokok dari sekolah membuat saya merasa sengsara. Apa yang bermasalah di sini? Diri saya atau sistem sekolahnya? Jika saya sendiri yang mengalami seperti itu berarti diri saya yang bermasalah. Dengan kata lain, itu hanya pengalaman subjektif. Namun, jika hampir semua orang mengalami seperti yang saya alami berarti sistem sekolah kita yang tidak beres. Kita tidak harus mempertahankan sekolah semacam itu. Lantas bagaimana sekolah yang seharusnya? Saya kembali kepada apa yang menjadi tujuan utama sekolah atau pendidikan. Pertama, sekolah adalah proses untuk memanusiakan manusia. Kedua, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ki Hadjar Dewantara sebagai perintis awal pendidikan di Indonesia, sekolah atau pendidikan bertujuan untuk memerdekakan manusia. Jadi, melalui sekolah setiap orang akan sungguh-sungguh menjadi manusia dan mengalami kemerdekaan. Saat seseorang sungguh-sungguh menjadi manusia dan merdeka, ia akan mengalami bahagia meskipun dia menjumpai berbagai kesulitan. 

Saya tertarik mengadopsi teori kebahagiaan menurut Aristoteles untuk mendukung ide di atas. Baginya kebahagiaan dicapai  dengan mengembangkan bakat, mengasah nalar, dan memupuk jiwa sosial.

1. Berfokus pada pengembangan bakat

Setiap orang pasti mempunyai bakat. Dalam term kristiani bakat berkaitan dengan talenta. Bakat termasuk dalam talenta (katolisistas.org). Tuhan mengaruniakan talenta kepada masing-masing orang dan talenta yang dikaruniakan itu harus dikembangkan atau digandakan (Bdk. Mat. 25:14:30). Maka, jika merujuk pada pesan injil tersebut setiap orang harus bertanggung jawab untuk mengembangkan bakatnya. Apabila memakai sudut pandang ajaran kristiani, sekolah yang berfokus pada pengembangan bakat merupakan sekolah yang mengindahkan perintah Tuhan. Perintah Tuhan itu selalu tepat dan menyukakan hati, selalu membahagiakan (Bdk. Mzm. 19:9).

Jauh sebelum kristiani terbentuk, di seputar wilayah Yunani Aristoteles telah menegaskan pentingnya pengembangan bakat tersebut. Sekolah yang membahagiakan adalah sekolah yang berupaya untuk menumbuhkan dan mempertajam bakat para peserta didik. Pengalaman dan pengamatan saya pribadi, sekolah kita di Indonesia terlalu membuang banyak waktu dan tenaga untuk mempelajari hal-hal yang tidak begitu penting dan tidak membahagiakan para peserta didik. Ada banyak mata pelajaran yang dituntut untuk dipelajari oleh para siswa meskipun pelajaran-pelajaran tersebut tidak sesuai bakatnya. Akibatnya mereka tidak bahagia selama belajar. Para siswa hanya terpaksa mempelajarinya demi mendapat nilai lulus yang menjadi syarat untuk bisa berlanjut ke jenjang berikutnya.

Sekolah yang berfokus pada pengembangan bakat peserta didik adalah sekolah yang tidak memaksa mereka untuk harus mendapat nilai tinggi pada mata pelajaran-mata pelajaran yang tidak mereka minati atau tidak sesuai bakat mereka. Sebaliknya, para pendidik akan mendorong para peserta didik untuk berupaya semaksimal mungkin menekuni mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi bagian dari bakat mereka. Sedangkan mata pelajaran lainnya dipelajari sebisanya sekadar untuk melengkapi pelajaran-pelajaran utama yang mereka minati. Pola sekolah seperti ini pasti membuat para peserta didik selalu merasa bahagia selama masa belajar karena mereka lebih didorong untuk mempelajari apa yang menjadi kesukaan, minat dan bakat mereka.

Sekolah yang berfokus pada pengambangan bakat seperti itu tidak perlu menunggu sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) tetapi dimulai dari sekolah dasar supaya para peserta didik perlahan-lahan menemukan spesialisasi atau keahlian mereka masing-masing sejak dini. Toh nanti sampai di perguruan tinggi pun setiap orang harus memilih sesuai dengan minatnya. Dalam dunia kerja juga, setiap orang akan memilih kerja yang sesuai minat dan keahliannya. Jadi alangkah baiknya jika itu sudah disiapkan sedini mungkin. Kecuali itu, sekolah yang dijalankan oleh peserta didik sejak sekolah dasarpun akhirnya menjadi pengalaman yang membahagiakan. 

2. Sekolah yang berpijak pada dorongan nalar

Menurut Aristoteles salah satu cara untuk membuat seseorang bahagia adalah mengikuti dorongan nalar atau akal budinya. Sekolah yang berpijak pada dorongan nalar adalah sekolah yang terbuka pada pertanyaan dan tanggapan kritis para peserta didik. Semua ilmu, termasuk ilmu agama sekalipun harus terbuka untuk dipertanyakan dan dikritisi. Tuhan tidak pernah menolak untuk dipertanyakan. Dalam kisah Musa contohnya, Allah menjawab pertanyaan Musa tentang siapa diri-Nya. Allah menjawab: Aku adalah Aku (Kel. 3:14).  Sebenarnya seringkali yang membatasi peserta didik untuk bertanya tentang ilmu yang dipelajarinya adalah pendidik itu sendiri. Gaya mengajarnya hanya gaya indoktrinasi dan mengisi air di dalam ember. Maka, peserta didik memang kenyang ilmu tapi ia tidak bisa memilah mana ilmu sampah dan mana yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan hidup bersama. 

Seharusnya peserta didik bebas bertanya dan beragumentasi dan pendidik berupaya menjawab secara jujur sambil tetap membuka diskusi lebih lanjut. Kadang-kadang pendidik menjawab sebuah pertanyaan seakan-akan telah memberi jawaban final tanpa boleh dibantah. Akhirnya nalar kritis peserta didik menjadi mati. Ia dididik untuk patuh buta. Dalam bahasa yang agak serius, selama sekolah ia tidak merdeka dalam berpikir tapi mengalami penjajahan. Bukankah penjajahan merupakan keadaan yang sangat menyengsarakan. Keadaan yang menjauhkan seseorang dari rasa bahagia.

3. Sekolah Yang Berorientasi Sosial

Sekolah yang membahagiakan juga bisa dicapai kalau sekolah itu mengorientasikan peserta didiknya untuk bersosial. Sekolah yang berorientasi sosial adalah sekolah yang menuntun peserta didik untuk menyadari ketidaksendiriannya di dunia ini dan terbuka untuk menerima perbedaan. Sekolah Katolik tetap menerima murid beragama lain dan menerima cara beragama mereka. Sekolah Islam juga menerima murid beragama lain dan cara bergama mereka. Bukan hanya agama, tapi juga perbedaan-perbedaan lain seperti suku, warna kulit, karakter, dll. Dengan itu, seorang peserta didik akan menyadari bahwa ada banyak orang lain di sekitarnya dengan segala keberagaman mereka. Bahkan ia juga akan menyadari kekayaan alam semesta ini. Seorang peserta didik yang sampai pada kesadaran itu tidak akan melihat perbedaan sebagai ancaman keberadannya tetapi menerimanya sebagai kenyataan kehidupan. Sikap penerimaan itu dapat melenyapkan kekhawatiran dan kecemasan. Hidup yang tidak diliputi kekhawatiran dan kecemasan tentu merupakan kehidupan yang membahagiakan.

Melalui sekolah yang berorientasi sosial ini juga seorang peserta didik diharapkan dapat terpacu untuk peduli pada orang lain dan seluruh alam ciptaan. Kepedulian bukan hanya tentang rasa empati, tetapi terutama tentang keterlibatan dan pemberian. Banyak orang yang mengalami kebahagiaan setelah memberi. Yang penting memberi dari kebebasan dirinya, bukan paksaan orang lain. Pasti ia akan mengalami kebahagiaan tersendiri melalui tindakannya tersebut. 

Bagi saya inilah yang akan membuat sekolah menjadi tempat dan kesempatan untuk bahagia. Akhirnya setiap orang yang pernah bersekolah bisa berkata: "saya bahagia selama bersekolah".

Komentar