Saya tertarik untuk menulis hal ini karena terinspirasi oleh perkataan seorang bernama Jon Jandai. Ia warga negara Thailand. Kampungnya terletak di Timur Laut negara itu. Dulu ia sempat hijrah ke kota Bangkok untuk mencari ‘kesuksesan hidup’ karena orang-orang mengatakan kepadanya bahwa kesuksesan ada di kota. Kesuksesan akan dialami setelah menempuh studi di universitas dan bekerja di kota. Namun apa yang terjadi padanya di kota Bangkok ternyata jauh dari kata mudah. Di sana dia mengalami dan menyaksikan hidup yang sulit. Studi membosankan dan kerja melelahkan selama 8 jam setiap hari. Hawa di dalam kos sangat panas dan sumpek. Kalau mau beli rumah pribadi, pelunasannya baru selesai setelah 30 tahun. Itu hidup yang tidak normal menurutnya. Ada yang tidak beres dengan kehidupan seperti itu. Akhirnya ia memutuskan berhenti kuliah dan pulang ke kampung halamannya. Di kampung ia menggarap sawah dan hanya butuh waktu dua bulan bekerja untuk memperoleh satu ton beras selama setahun. Ia membuat kolam ikan dan juga berkebun untuk menanam berbagai jenis sayuran. Melalui pertanian dan peternakan itu ia bisa memberi makan 6 orang anaknya dengan mudah. Bahkan banyak lagi sisanya. Yang sisanya itu ia jual untuk membeli kebutuhan lain. Dengan cara hidup barunya itu ia kemudian berkesimpulan: hidup ini mudah. Sekarang ia sering diundang kemana-mana untuk menjadi pembicara karena ide dan cara hidupnya yang sangat efektif untuk kemudahan hidup. Ia menjadi terkenal tapi ia tetap dengan kesederhanaan dan keberbedaannya.
Seringkali saya merasakan sendiri dan mendengar keluhan dari orang-orang bahwa hidup ini tidak mudah. Hidup ini sulit. Itu sebabnya ada ungkapan ‘hidup adalah perjuangan’. Saya pikir kita perlu bertanya ke dalam diri kita masing-masing, apa yang kita perjuangkan sehingga kita merasa hidup ini sulit? Sebetulnya perjuangan kita dalam hidup ini hanya untuk menyasar dua tujuan yaitu MEMPERTAHANKAN HIDUP dan MEMAKNAI HIDUP. Jangan sampai kita memperjuangkan hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Kita masing-masing bisa mengecek setiap perjuangan sulit yang kita tempuh selama ini. Apabila kita menemukan bahwa kesulitan itu tidak ada hubungannya dengan upaya untuk mempertahankan hidup dan untuk memaknai hidup, sebaiknya tidak perlu diteruskan lagi.
Barangkali benar apa yang dikatakan Jon Jandai bahwa hidup ini sebenarnya mudah. Asalkan kita memperhatikan beberapa hal berikut. Pertama, fokus pada upaya untuk mempertahankan hidup yaitu makanan yang sehat, air bersih, pakaian secukupnya, rumah yang aman, dan tindakan yang baik dengan orang lain serta alam semesta. Hal-hal lain dari itu tidak harus diperjuangkan; misalnya rumah besar dan megah, pakaian indah, mobil keluaran baru, berwisata ke destinasi terkenal, kedudukan tinggi, tabungan yang banyak, dll. Fokus pada hal-hal yang paling penting saja. Itu akan membuat hidup lebih ringan dan mudah dijalankan. Kedua, bersamaan dengan upaya untuk mempertahankan hidup, kita juga perlu memaknai hidup. Pemaknaan hidup yang tidak terlalu sulit adalah memanfaatkan kapasitas dan mengekspresikan hobi. Ketika kita memaknai hidup berdasarkan kapasitas dan sesuai hobi yang kita miliki, niscaya semuanya akan terasa menyenangkan dan mudah. Sebaliknya kalau kita memaksa diri untuk mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai kemampuan dan hobi kita, pasti pekerjaan itu rasanya sangat sulit dan tidak menyenangkan. Kita pun harus tegas menolak kalau diberi pekerjaan yang tidak sesuai kemampuan dan hobi kita agar pekerjaan itu tidak jadi beban yang mempersulit hidup.
Ketiga, berani mengendalikan keinginan. Teologi Budha menegaskan bahwa penderitaan adalah hasil dari keinginan. Dengan kata lain, penderitaan akan lenyap kalau kita mampu menghentikan keinginan. Kita perlu selektif dengan berbagai keinginan yang muncul dalam diri kita. Semuanya tidak harus kita penuhi. Terkait ini, hidup minimalis menjadi relevan. Dalam artian, kita tidak harus memiliki banyak hal. Dalam rumah kalau penuh dengan berbagai jenis barang pasti terasa sesak dan memusingkan. Pikiran juga kalau terisi dengan banyak urusan tentu melelahkan. Sama halnya jika kita mempunyai kendaraan yang banyak, akan lebih sulit diurus, apalagi kalau rusak. Jika ada proyek yang baik, buatlah satu atau dua proyek saja. Yang penting dilaksanakan sampai tuntas. Terlalu banyak proyek justru akan bingung diselesaikan dan hasilnya tidak akan maksimal. Kelima, berani menjadi orang yang berbeda. Kalau mau jujur, hidup ini sebenanya menjadi sulit karena kita mau seperti orang lain dan selalu mengikuti kebiasaan umum masyarakat atau orang-orang di sekitar kita. Ukuran kesuksesan orang lain kita paksakan untuk menjadi ukuran kita juga. Saat orang lain mempunyai banyak uang di bank, kita juga mau begitu. Ketika orang lain mempunyai mobil, kita juga mau punya mobil. Namun, belum tentu pekerjaan atau kemampuan kita bisa dengan mudah mendapatkan itu semua. Kita tidak berani menjadi berbeda dengan membuat standar kesuksesan yang lain sesuai kemampuan yang kita miliki. Memang mungkin kita akan dianggap gila atau tidak normal kalau berbeda dari yang lain. Menarik yang dikatakan Jon Jandai bahwa saat kita berbeda, orang akan melihat kita tidak normal, tapi kita juga akan melihat orang lain tidak normal. So, siapa sesungguhnya yang tidak normal?
Hidup ini mudah kata dia. Coba kita ikuti cara hidupnya dan buktikan dengan menerapkan kelima poin di atas. Jangan sampai ucapannya benar. Kalau terbukti benar, berarti kesulitan hidup yang kita alami selama ini akibat dari cara hidup kita yang keliru.
Komentar
Posting Komentar