Ada ungkapan klasik, ‘malu bertanya sesat di jalan’. Ungkapan ini mengingatkan kita tentang pentingnya bertanya. Hidup ini harus dijalani dengan senantiasa bertanya. Dengan selalu mengajukan pertanyaan, misteri hidup perlahan-lahan tersingkap. Kemauan dan keberanian bertanya akan melahirkan jawaban-jawaban yang penting dalam perjalanan hidup. Kita bertanya tentang kemana arah yang mau kita tuju dari perjalanan hidup ini. Kita juga bertanya bagaimana caranya agar kita dapat sampai ke tujuan itu. Macam-macam pertanyaan boleh kita lahirkan sesuai dengan apa yang kita dan dunia butuhkan.
Di Universitas Oxford ada seorang filsuf perempuan bernama Lani Watson yang mendalami tema pertanyaan dengan menggunakan pisau kajian filsafat. Dia mengkaji 'filsafat pertanyaan-pertanyaan' yang disebut philosophy of questions. Apa itu bertanya? Mengapa kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan? Apa yang membuat suatu pertanyaan baik atau buruk? Bagaimana kita bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan terbaik? Kajian filsafat ini dibangun di atas pertanyaan-pertanyaan itu. Namanya filsafat tentu orientasinya untuk menggali semakin dalam suatu objek kajian. Maka ‘pertanyaan’ sebagai objek kajian pun dikaji dengan pertanyaan-pertanyaan kunci seperti itu. Bagi saya, apa yang ditekuni Lani Watson ini menjadi tanda bahwa bertanya merupakan tindakan penting bagi manusia.
Filsafat merupakan ibu dari segala ilmu (mother of sciences). Namun, filsafat sendiri lahir dari pertanyaan. Jadi, filsafat sendiri mempunyai ibu yaitu pertanyaan. Ternyata pertanyaan berada pada posisi lebih tinggi dan lebih mendasar dari filsafat. Pertanyaan tidak sekadar objek kajian seperti yang sedang dilakukan Lani Watson, tapi pertanyaan pun merupakan subjek yang telah membuahkan filsafat. Maka ilmu-ilmu lain yang merupakan turunan dari filsafat akhirnya tidak bisa terlepas dari jasa pertanyaan. Bisa dikatakan bahwa nenek moyang dari semua ilmu adalah pertanyaan. Sungguh penting peran pertanyaan dalam sejarah perkembangan ilmu-ilmu. Tidak bisa dibayangkan terciptanya berbagai ilmu tanpa didahului oleh pertanyaan. Kunci utama yang membuka gerbang kehadiran berbagai hasil pemikiran dalam kehidupan manusia adalah pertanyaan.
Kita perlu menghidupkan kembali potensi bertanya dalam diri kita. Jangan sampai kita takut dan malas bertanya. Lebih parahnya lagi kalau kita melarang orang untuk menyampaikan pertanyaan. Kita harus memberi ruang dan waktu untuk orang mempertanyakan sesuatu; misalnya mempertanyakan sikap dan tindakan kita, mempertanyakan kebijakan pemerintah, mempertanyakan aturan, mempertanyakan ajaran guru, dll. Apapun perlu kita tanyakan. Kita boleh bertanya kepada orang lain kalau kita yakin dia bisa memberi jawaban. Kita juga bisa bertanya membatin supaya kita sendiri yang berupaya mencari jawabannya. Yang penting kita tidak berhenti membuat pertanyaan-pertanyaan dalam menjalani kehidupan ini, karena akibatnya seperti ungkapan tadi bahwa malu bertanya akan tersesat di jalan. Sebaliknya kalau kita berani bertanya, perjalanan hidup kita akan mendapat arah yang tepat.
Bertanya akan mencegah ketersesatan dari kebodohan. Bertanya dapat menguak hal yang sebelumnya tersembunyi. Bertanya sangat membantu terciptanya kreativitas. Bertanya adalah awal dari segala karya ulung. Bertanya membentuk sikap kritis yang tidak lekas percaya pada kebiasaan dan tradisi. Bertanya merupakan langkah paling berani untuk keluar dari kebodohan. Saya teringat tanggapan dosen filsafat saya atas pertanyaan seorang teman kami demikian: “dari apa yang kamu tanyakan, tampak sekali kamu bodoh.” Mendengar itu seisi kelas mendadak tertawa. Kemudian dosen tersebut melanjutkan, “tapi teman-teman kamu yang tidak bertanya lebih bodoh dari kamu.” Rupanya kami telah menertawakan kebodohan kami sendiri waktu itu. Hahaha….
Komentar
Posting Komentar