Dalam hidup ini apa yang kita harapkan sering tidak sesuai kenyataan. Misalnya kita berharap sehat tapi yang terjadi justru sakit. Kita berharap berhasil tapi yang terjadi justru gagal. Apabila pikiran kita tetap bertahan pada apa yang kita harapkan di hadapan kenyataan yang berbeda, kita pasti menderita. Inilah penyebab utama penderitaan, yaitu penolakan kita terhadap realitas yang tidak sesuai harapan. Kalau begitu, bagaimana sejatinya sikap kita dalam menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapan supaya kita tidak menderita?
Pertama-tama kita harus memahami bagaimana sesungguhnya kehidupan ini. Orang Tionghoa mempunyai filosofi populer tentang realitas kehidupan. Mereka menyebutnya yin dan yang. Kehidupan ini pada dasarnya adalah paduan antara yang hitam dan yang putih. Keduanya seimbang. Yang satu tidak lebih besar dari yang lain. Yang satu tidak memonopoli yang lain. Demikian inti pemahamannya. Bagi saya filosofi yin dan yang merupakan GAMBARAN REALITAS KEHIDUPAN YANG SALING BERLAWANAN. Hidup ini tidak selalu terisi dengan kegelapan dan tidak juga hanya terisi dengan terang. Masing-masing mempunyai gilirannya.
Ada saatnya sehat, ada saatnya sakit. Ada saatnya rajin, ada saatnya malas. Ada saatnya kuat, ada saatnya lemah. Ada saatnya keren, ada saatnya jelek. Ada saatnya bodoh, ada saatnya pandai. Ada saatnya punya banyak uang, ada saatnya uang berkurang. Ada saatnya gembira, ada saatnya sedih. Ada saatnya berhasil, ada saatnya gagal. Ada saatnya panas, ada saatnya dingin. Ada saatnya hujan, ada saatnya kering. Ada saatnya punya masalah, ada saatnya tanpa masalah. Ada saatnya dicintai, ada saatnya dibenci. Ada saatnya dijauhkan, ada saatnya didekati. Ada saatnya bisa, ada saatnya tidak bisa. Ada saatnya tertawa, ada saatnya menangis. Ada saatnya kotor, ada saatnya bersih. Ada saatnya tidur, ada saatnya bangun. Ada saatnya siang, ada saatnya malam. Ada saatnya tanpa bencana, ada saatnya terjadi bencana. Masih banyak realitas lain lagi yang saling berlawanan. Semuanya silih berganti tampil dalam kehidupan kita. Seringkali kita hanya menerima yang kita harapkan atau yang kita sukai. Sedangkan hal-hal sebaliknya kita tolak. Sikap inilah yang membuat kita menderita.
Kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan yang seperti itu. Masing-masing mempunyai waktunya. Kita harus memegang pemahaman ini. Setelah itu, di hadapan realitas yang tidak sesuai dengan harapan kita, sikap kita adalah mengakui dan mencintai kenyataan itu. Sebagaimana filsuf Stoa, Marcus Aurelius pernah berkata: “Cintailah apapun yang telah terjadi dan apa yang sudah ditakdirkan. Itulah harmoni terbaik yang bisa kita lakukan.” Maksudnya, kita tidak perlu anti terhadap realitas di luar harapan kita. Biarkan kenyataan itu datang kalau memang kehadirannya tidak bisa kita hindari. Yang penting kita tidak membiarkannya menguasai emosi atau pikiran kita. Misalnya saat sakit datang, biarkan sakit itu kita alami apa adanya. Pikiran kita tidak perlu menolaknya. Namun, pikiran kita juga tidak boleh menanggapinya dengan berbagai asumsi dan analisis negatif. Fokus saja pada upaya untuk menyembuhkan sakit itu kalau kita yakin bisa untuk sembuh. Nikmati juga waktu demi waktu dari proses penyembuhan kita. Dengan itu saya yakin meskipun tubuh kita terasa sakit, kita tidak terlampau menderita. Kita pun lebih cepat mengalami kesembuhan. Tidak hanya menyangkut sakit, realitas-realitas lain yang tidak sesuai harapan kita juga tidak akan menimbulkan penderitaan yang berlebihan jika kita bersikap demikian. Selamat mencoba.
Komentar
Posting Komentar