Langsung ke konten utama

Kita Pasti Mati


Kemarin dulu teman SMP saya meninggal. Usianya masih muda, lebih kurang seperti usia saya. Kami tidak tau ternyata selama ini ia menderita penyakit kronis. Ia meninggal tiba-tiba. Kemarin saya juga mendengar keluarga saya meninggal. Usianya memang sudah agak tua. Ia pun meninggal karena penyakit kronis, tapi selama ini kami sudah tahu penyakitnya. Teman dan keluarga saya ini sama-sama sudah meninggal meskipun proses meninggal masing-masing mereka berbeda. Yang satunya tiba-tiba saja sedangkan yang satunya lagi sudah diwanti-wanti sejak lama. Usia saat mereka meninggal juga berbeda. Satunya masih muda dan yang satunya lagi sudah cukup tua.

Sejumlah orang mungkin lebih memilih diam untuk membicarakan kematian. Pantang dan takut membahas ini. Apalagi orang-orang sering katakan bahwa pembicaraan adalah doa. Menurut saya, kita tidak boleh takut berbicara tentang kematian, karena ketakutan merupakan awal dari kematian itu sendiri. Ketakutan sangat menyiksa raga hingga terasa tak berdaya. Itulah ‘pengalaman mati’ saat masih hidup sebelum kita sungguh-sungguh mati. Maka sebaiknya kita perlu berani membicarakan apapun, tak terkecuali kematian. Keberanian itu justru mampu memompa energi kehidupan kita. 

Kematian merupakan kepastian bagi setiap orang. Inilah hukum kehidupan di jagat ini: yang hidup akan mati. Pelawak kondang Gareng Rakasiwi pernah bilang: “kematian itu seperti antrian bahan bakar. Setiap orang akan sampai pada gilirannya.” Ucapan Gareng itu memang agak lucu seperti dirinya. Jika kematian ibarat antrian bahan bakar, berarti seakan-akan kita membutuhkan kematian seperti kita membutuhkan bahan bakar. Benarkah begitu? Tampaknya bukan bahan bakar yang menjadi fokus dari perumpamaan Gareng, tapi tindakan mengantrinya yang harus digarisbawahi untuk menerangkan tentang fakta kematian dalam sejarah kehidupan semua makhluk. Masing-masing orang dan setiap apapun yang hidup perlahan-lahan mendekati kematiannya dan akan tiba saatnya kematian itu tiba juga.

Pada abad ke-19 yang lalu, di Jerman tampil seorang pemikir kritis bernama Ludwig Feuerbach. Ia keras mengkritik agama tapi ia takluk di hadapan fakta kematian. Ketika anaknya meninggal, ia lantas menilai kematian merupakan realitas terkejam yang pernah ia tahu. Kematian telah merebut anaknya dari dekapannya. Kematian juga sekaligus merenggut harapan dan kebahagiaannya. Ya, kematian tidak mentolerir orang yang hebat seperti Feuerbach. Kematian tidak peduli pada orang cerdas dan keras. Kematian juga tidak berpihak pada yang lemah atau tidak bersalah. Semua didatanginya pada waktunya masing-masing. 

Di hadapan kepastian bahwa kita semua akan mati, apa yang perlu kita lakukan selama hidup? Kiranya itulah pertanyaan penting yang harus kita jawab. Saya menawarkan tiga hal saja. Pertama, berkarya bagi keutuhan dunia. Ciptakanlah karya dalam rupa apapun yang berguna bagi dunia ini supaya setiap makhluk yang mendiaminya entah sekarang maupun nanti tetap dapat mengalami kehidupan yang baik. Kedua, lepaskan kelekatan. Jangan melekat pada apapun atau siapapun sehingga ketika kematian datang, kita iklas dan tidak sedih berlebihan. Ketiga, jalani hidup dengan sikap terbuka pada perubahan. Hampir tidak ada satu halpun yang bisa kita kendalikan dalam kehidupan ini. Semuanya bisa berubah. Terimalah itu apa adanya supaya kita jangan menderita sebelum mati karena menolaknya. 

I was inspired by the death of St. Anthony Mary Claret on October 24 1870


Komentar