Langsung ke konten utama

Kedahsyatan Cita-cita


Ketika bepergian ke suatu tempat menggunakan mobil atau sepeda motor, tidak jarang kita menjumpai persimpangan. Kita juga sering melewati jalan yang berlubang atau terjebak dalam kemacetan. Meskipun demikian, kita tetap mengarahkan kendaraan kita ke tempat tujuan yang mau kita pergi. Tempat tujuan itulah yang membuat kita tidak mengambil jalur yang keliru di persimpangan, tetap hati-hati di jalan berlubang dan terus bergerak dalam kemacetan. 

Perjalanan hidup ini ibarat pergi ke suatu tempat dengan menggunakan kendaraan. Apa kendaraannya? Tidak lain yaitu tubuh. Lalu siapa pengemudinya? Kesadaran kitalah yang menjadi pengemudinya. Jadi, pengendali utama tubuh kita adalah kesadaran kita sendiri. Tubuh mempunyai kemauannya yang bermacam-macam, tapi tidak semuanya harus dipenuhi. Kita perlu menentukan dan mengarahkan kemauan apa yang boleh kita ikuti. Salah satu kunci agar kesadaran mampu mengendalikan tubuh adalah mempunyai tujuan atau cita-cita hidup yang jelas. Itu seperti tempat tuju saat kita berkendara. Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup seseorang. Demikian kata novelis Andrea Hirata.

Cita-cita atau tujuan hidup dapat dibagi ke dalam empat jenis berdasarkan waktunya, yakni cita-cita jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang, dan cita-cita akhir. Cita-cita jangka pendek yaitu sasaran yang mau dicapai dalam tempo yang singkat, misalnya sejam hingga sehari. Hidup macam apa yang mau kita jalani dalam sehari? Hasil apa yang kita inginkan dari pekerjaan atau usaha kita dalam satu jam? Itulah sasaran atau cita-cita jangka pendek. Kemudian cita-cita jangka menengah, yang mana merupakan sasaran dalam sepekan, sebulan, dan setahun. Kita bebas menetapkan cita-cita atau sasaran yang mau kita gapai selama rentang waktu tersebut. Sedangkan cita-cita jangka panjang adalah cita-cita yang mau  diraih dalam waktu beberapa tahun mendatang. Biasanya itu membutuhkan proses dan perjuangan yang lama. Setelah cita-cita jangka panjang, sangat perlu juga membuat cita-cita akhir. Apa yang kita mau pada akhir hidup, ketika nafas hampir lenyap dari tubuh kita? Apa yang kita harapkan sesudah kita mati?

Cita-cita atau sasaran hidup mempunyai kegunaan yang sangat dahsyat. Pertama, sebagai daya dorong yang kuat. Tak bisa kita sangkal bahwa ada saatnya semangat dan tubuh kita melemah. Pada saat seperti itu, cita-cita mampu memantik kembali semangat dan memulihkan kesehatan kita. Situasi sulit sanggup kita terjang kalau kita ditarik oleh kekuatan tujuan yang mau kita capai. Contoh sederhana saat seorang ibu melahirkan anaknya. Dalam pengalaman itu ia pasti merasakan sakit yang sangat ngeri. Namun, karena ibu itu mempunyai impian yang sungguh besar untuk melihat bayi yang dikandungnya terlahir dengan selamat, ia menjadi kuat menghadapi situasi itu.

Kedua, hidup lebih terfokus. Adanya tujuan yang jelas dalam menjalani hidup ini membuat kita tidak asal berpikir, berbicara, dan bertindak. Jika kita tidak punya tujuan yang jelas, apapun akan kita pikirkan. Apapun kita bicarakan. Apapun kita lakukan. Hasilnyapun tidak jelas. Bahkan bisa-bisa kita menuai akibat yang berbahaya. Kita sudah tahu bahwa tubuh kita mempunyai keinginannya yang macam-macam. Dengan adanya tujuan hidup, kita hanya akan mengikuti keinginan-keinginan yang sesuai dengan tujuan itu. Selain dari itu kita abaikan. 

Ketiga, hidup menjadi lebih ringan dan lebih membahagiakan. Saat kita mempunyai tujuan yang jelas dalam hidup ini, tidak semua hal menjadi beban dalam pikiran. Hanya upaya untuk mendukung tujuan kita saja yang mengisi pikiran kita. Ibaratnya kita tidak perlu sibuk memikul lemari pakaian atau tempat tidur kalau tujuan kita adalah pergi ke sekolah. Ada kalanya hidup ini terasa berat karena kita memaksa diri memikul semua hal yang mendatangi kehidupan kita entah yang berguna atau tidak berguna. 

Untuk menentukan sasaran hidup, ada satu dan dua catatan yang perlu kita perhatikan. Pertama, menentukan cita-cita yang realistis dan terukur. Apa artinya? Cita-cita jangan seperti impian memeluk gunung. Misalnya suara saya pada dasarnya jelek tapi saya bercita-cita jadi penyanyi. Itu hanya khayalan yang mustahil tercapai. Yang kita tetapkan harus sesuai dengan kemampuan atau kapasitas kita. Setidaknya kita bisa mengukur bahwa nanti kita bisa menggapai cita-cita itu. 

Kedua, menentukan cita-cita yang kita suka, yang indah, yang saat membayangkannya saja kita sudah merasa bahagia. Cita-cita yang berdaya kuat mempengaruhi motivasi dan perjuangan kita adalah cita-cita yang bisa menyentuh perasaan dan bisa sampai di hati. Masing-masing kita bisa bertanya membatin, apa yang saya sukai dalam hidup ini? Apa yang indah yang bisa buat saya bahagia? Hal-hal itulah yang mestinya menjadi sasaran, tujuan atau cita-cita hidup. Daya tariknya akan sangat kuat. Kata Eleanor Roosevelt, "masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan cita-cita mereka."

Ketiga, cita-cita itu harus cita-cita yang dapat membantu kehidupan diri kita sendiri bersama semua orang dan semua makhluk di dunia ini. Banyak hal yang kita sukai atau yang kita inginkan dalam hidup ini, tapi tidak semuanya membantu perkembangan hidup menjadi lebih baik. Sejumlah kesukaan justru merusak hidup. Kita harus tegas untuk tidak memilih asal suka saja, tapi kesukaan yang mendukung terciptanya kehidupan yang utuh, aman, damai, adil dan makmur.

Keempat, terbuka dengan realita. Kendatipun kita sudah membuat cita-cita yang jelas, kadang-kadang dalam proses untuk menggapainya kita mengalami kenyataan yang diluar ekspektasi dan perhitungan. Mungkin karena keterbatasan diri atau akibat perbuatan orang lain atau karena gejala alam. Kita akan mudah kecewa dan berhenti memperjuangkan suatu cita-cita di hadapan masalah seperti itu kalau kita tidak terbuka dengan kenyataan. Dalam filsafat stoa ditegaskan bahwa dalam kehidupan ini hanya pikiran dan gagasan kita saja yang bisa kita kendalikan, selain itu semuanya di luar kendali kita. Maka jika terjadi kenyataan yang di luar perkiraan, terima dan alami saja apa adanya. Yang penting pikiran dan hati tetap tertuju pada cita-cita yang sudah kita buat. 



Komentar