Manusia sangat beruntung karena dirinya dilengkapi begitu banyak kapasitas. Salah satu kapasitas itu adalah pikiran. Tidak bisa dibayangkan bagaimana seseorang bisa hidup di dunia ini tanpa pikiran. Betul bahwa dasar pokok kehidupan seseorang bukanlah pikiran, tetapi sesuatu sebelum pikiran itu, yang dalam filsafat Timur dinamakan kesadaran murni (pure awareness). Meskipun demikian, pikiran memainkan peran yang sangat penting dalam proses kehidupan seseorang. Bahkan filsuf Rene Descartes secara ekstrim mengatakan “saya berpikir maka saya ada”. Perkataan Descartes ini memang terlalu determinatif. Seakan-akan eksistensi atau keberadaan manusia hanya diukur dari pikirannya, sedangkan kapasitas-kapasitas lain seperti emosi, indra, dan lain sebagainya tidak menjamin keberadaan manusia. Tentu perkataan Descartes itu keliru karena bagaimanapun juga keberadaan manusia merupakan hasil dari keseluruhan aspek atau kapasitas dalam dirinya. Terlepas dari kekeliruan Descartes itu, kita tetap perlu menggarisbawahi pentingnya pikiran dalam kehidupan kita.
Pikiran merupakan salah satu kunci dalam membangun relasi yang baik dengan orang lain dan dengan seluruh alam semesta ini. Pikiran yang terbuka dan berisi wawasan yang kaya lebih mudah untuk menerima dan memperlakukan orang lain maupun alam semesta ini secara baik. Hasilnya adalah keteraturan, damai, rukun dan kasih. Sebaliknya kalau pikiran kita tertutup dan wawasan yang kita miliki juga terbatas, besar kemungkinan kita akan memperlakukan orang lain dan alam semesta ini secara buruk. Akibatnya timbul kecurigaan, kekacauan, kebencian, dan konflik.
Masih ingatkah kita pribahasa ‘seperti katak dalam tempurung’? Orang yang seperti seekor katak dalam tempurung mengklaim kebenaran hidup hanya ada dalam tempurungnya. Ia tidak yakin bahwa di luar tempurung itu ada juga kehidupan. Ia tidak berusaha membongkar tempurung itu untuk mengetahui kenyataan yang lebih luas, untuk menyadari kehidupan yang juga ada di luar tempat keberadaannya. Ia memang sering mendengar segala suara kehidupan di luar tempurung, tapi ia tidak peduli. Ia tidak mau bergegas dari keberadaannya yang nyaman. Ia barangkali tidak percaya akan suara-suara itu.
Ada satu cerita inspiratif Yunani klasik tentang hal ini. Namanya Mitologi Gua, yang dikarang oleh Platon. Demikian ceritanya. Alkisah ada beberapa orang yang sudah sekian lama tertawan di dalam sebuah gua. Tangan dan kaki mereka dirantai. Di belakang mereka ada api menyala dan selalu ada orang yang berjalan kesana-kemari di dekat api itu. Bayangan orang yang berjalan itu terpantul ke dinding gua di depan mereka. Jadi mereka menyangka bahwa bayangan itu merupakan manusia yang sesungguhnya. Suatu ketika salah satu dari mereka berhasil lolos dan melihat orang asli dari bayangan yang ia dan teman-temannya selalu lihat sebelumnya di dinding gua. Tidak puas dengan itu, ia berjalan keluar dari gua. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kenyataan yang ada di luar gua itu. Ia melihat pepohonan, cahaya, dan bayangan dirinya di dalam air. Ia menjadi sadar bahwa bayangan yang selama ini ia lihat bukanlah kenyataan yang sebenarnya dari seorang manusia. Ia masuk kembali ke dalam gua dan coba menerangkan kepada teman-temannya tentang apa yang ia lihat tapi mereka tidak percaya. Orang-orang dalam cerita tersebut mewakili dua jenis masyarakat kita yaitu masyarakat tertutup dan masyarakat terbuka. Masyarakat yang mau keluar dari dunianya untuk mempelajari dunia yang lain dan masyarakat yang betah dengan dunianya yang terbatas.
Biarkanlah pikiran kita terbuka untuk kehadiran berbagai kebenaran lain dari luasnya dunia ini. Semangat postmodern yang merupakan era kita sekarang ditandai dengan penerimaan aneka kebenaran kecil yang tercecer di mana-mana. Artinya klaim kebenaran bukan lagi monopoli kelompok atau ideologi tertentu seperti pada era modern lalu. Biarkanlah juga pikiran kita diisi dengan segudang wawasan dari luasnya dunia ini. Dengarkan pengalaman orang-orang dari manapun. Bacalah buku sebanyak-banyaknya. Dengan itu, pikiran kita menjadi kaya. Kita akan terbuka menerima dan menghargai semua orang dengan segala perbedaan yang mereka miliki entah agama, suku, karakter, dan cara hidup mereka. Tidak sekadar menerima dan menghargai, kita pun akan terdorong untuk membantu siapapun sesuai dengan kebutuhan mereka tanpa memandang apa agamanya, apa latar belakangnya, dll. Bukan hanya dengan manusia kita bersikap baik, tapi juga dengan dunia ini seluruhnya. Kita akan mampu lebih bijak dalam bertindak atas alam semesta ini, tidak demi keogoisan dan kepentingan kita manusia semata, melainkan demi keteraturan dan keutuhan alam semesta seluruhnya.
Komentar
Posting Komentar