Langsung ke konten utama

Cinta Yang Terabaikan


Membahas cinta tak ada habisnya. Padahal jutaan lagu dan karya sastra paling banyak bercerita tentang cinta. Bahkan pemikir-pemikir besar seperti Gabriel Marcel dan Max Scheller juga tidak ketinggalan menelurkan pemikiran filosofis mereka terkait cinta. Bagi Scheller, cinta merupakan salah satu kegiatan khas yang memberi ciri pada kemanusiaan seseorang. Adapun bagi Marcel, cintalah yang memanggil setiap pribadi untuk berhubungan dengan sesamanya. Selain dalam tataran idealis, cinta juga tidak habis-habisnya terungkap dalam pengalaman empiris. Anehnya, biarpun seseorang sudah pernah gagal dalam percintaan, tapi kalau ia bertemu lagi orang yang bisa buat hatinya berbunga-bunga, ia akan jatuh cinta lagi. Cinta sudah seperti kehidupan itu sendiri. Selagi ada kehidupan, cinta pun masih ada. Seperti kehidupan yang tetap berlangsung dalam kenyataan pasang-surutnya, demikian juga cinta yang walau kadang menyakitkan dan kadang membahagiakan tapi orang tidak jera untuk mencinta dan dicinta lagi. Tampaknya benar kata Ona Hetharua dalam lagunya, “cinta bikin bodoh”. Bodoh dalam arti keadaan tidak menyadari suatu hal walau ia mampu memahaminya. 

Kemana ingatan kita tertuju kalau berpikir tentang cinta? Barangkali ada yang memikirkan pacarnya atau pasangan hidupnya. Mungkin ada yang mengingat ayahnya atau ibunya. Bisa juga seseorang yang sudah punya anak mengingat anaknya. Menurut saya, kebanyakan orang lebih cenderung memikirkan manusia dalam mencinta. Suatu pertanyaan gugatan, pernahkah kita mengingat hal di luar manusia tentang cinta? Paling-paling kita langsung melompat ke Sang Cinta, yaitu Tuhan sendiri. Dengan keyakinan bahwa Dialah Tuhan Maha Cinta, pasti Dia juga turut hadir dalam kamus cinta kita. Sebetulnya ada hal lain di luar manusia dan Tuhan yang selalu setia mencintai kita. Saya dan mungkin Anda sering tak menghiraukannya. Apakah itu? Cinta Alam.

Alam mempunyai cinta. Saya sangat yakin dengan ini ketika memahami cinta berpijak pada pemikiran Paul Tillich. Baginya cinta adalah motor penggerak kehidupan. Tanpa cinta kehidupan akan mati dan lenyap. Alam selalu memainkan peran ini. Ia menjadi penggerak kehidupan. Tanpa alam, tidak ada kehidupan di atas bumi. Ada alam maka ada kehidupan. Alam mencinta dari keberadaannya. Tak bisa ditampik lagi, alam adalah cinta itu sendiri. Tanpa alam, kehidupan segala makhluk termasuk manusia mustahil ada. Betapa alam sangat esensial dalam sejarah kehidupan. Betapa alam selalu mencinta untuk kehidupan kita dan semua makhluk hidup yang lainnya. 

Unsur alam yang paling mencintai kita yaitu udara, tanah, air, tumbuhan, dan cahaya matahari. Jika mau ditambahkan satu lagi yaitu semua hewan yang dapat kita jadikan makanan. Siapa yang bisa hidup tanpa unsur-unsur itu? Semuanya mencintai kita untuk menghidupkan kita. Mereka adalah para pecinta yang perlu kita hiraukan, perlu kita pedulikan. Lebih baik gelisah memikirkan kerusakan alam daripada resah karena tidak dikabari pacar. Lebih berguna berjuang demi memelihara alam daripada menghabiskan perhatian untuk si pujaan hati. Hiraukanlah cinta dari dia yang bisa menghidupkanmu yaitu alam. Jangan sampai sepanjang hari hanya mengingat kekasih hati. Itu cinta yang berpeluang  jadi pembunuh, seperti kata Rian d’Masiv: ‘cinta ini membunuhku’.

Beberapa sikap yang perlu untuk membalas cinta alam. Pertama, jangan menduakan alam. Alam perlu dicintai sebagaimana ia setia mencintai kehidupan. Alam perlu ada di pikiran dan hati kita. Alam jangan dibelakangkan, diduakan, apalagi dilupakan hingga dirusakkan. Merusak alam sama dengan merusak diri sendiri dan mematikan kehidupan. Alam harus menjadi juga sebagai yang nomor satu dalam perhatian kita. Kelestarian dan keutuhannya adalah tanggung jawab kita. Kedua, menikmatinya tanpa menghancurkannya. Tendensi untuk menikmati alam sampai merusakkannya perlu segera dihentikan. Saya sangka, alam tidak menolak untuk dinikmati, dialami, diambil demi kehidupan kita. Tapi adalah kesalahan bila kita menikmati dan mengeruknya sampai hancur. Suatu waktu ia akan berbalik menghancurkan kita melalui bencana alam dan perubahan iklim yang ekstrim. Kata Paus Fransiskus, “Tuhan selalu mengampuni manusia. Manusia juga mengampuni sesamanya. Namun alam tak pernah kenal ampun”. Ketiga, sampaikan doa atas alam. Anda dan saya yang beriman sangat perlu untuk tidak hanya berdoa bagi sesama manusia, tapi juga bagi alam. Kita berdoa syukur sekaligus memohon rahmat Tuhan agar selalu menjadikan alam ini aman untuk kita diami. Doa ini sangat lengkap jika berbarengan dengan upaya kita manusia untuk menjaga alam secara bertanggung jawab. Mari kita peduli dengan alam. Jangan abaikan lagi cintanya. Kata Gede Prama: “keberadaan alam lebih dari sekadar membuat kita hidup. Alam juga adalah tanda jalan pulang menuju kedamaian”.




Komentar