Langsung ke konten utama

Banyak Membaca Demi Diri Sendiri dan Indonesia


Pada umumnya seseorang yang pernah sekolah sudah bisa membaca sejak ia TK atau SD. Ia diajar untuk membaca abjad, suku kata, kata, hingga kalimat. Setelah mampu dalam hal itu, seterusnya seseorang diajar membaca untuk tujuan tertentu. Misalnya, membaca untuk didengarkan oleh orang lain dan membaca untuk memahami apa yang dibacakan. Dalam hal membaca juga ada teknik-tekniknya seperti membaca sekilas (skimming) dengan maksud agar seseorang bisa menangkap poin pokok bacaan dalam waktu yang singkat. Sekolah-sekolah di Indonesia mengajarkan semua itu. Sampai di sini ada satu pertanyaan penting, bagaimana minat kita dalam membaca?

Berdasarkan hasil survey tahun 2019 lalu dari program For International Student Assesment (PISA), Indonesia menempati urutan ke-62 dari 70 negara dalam hal membaca. Standar internasional dalam membaca adalah setiap tahun seseorang harus membaca minimal 3 buku baru. Orang Jepang rata-rata bisa membaca hampir 20 buku baru setiap tahun. Sedangkan Indonesia hanya satu buku baru, tapi itu pun dibaca oleh 90 orang. Sungguh potret literasi Indonesia yang memprihatinkan. Kita orang Indonesia sepertinya anti sekali dengan kegiatan membaca. Mungkin ada yang rajin membaca, tapi membaca story WA atau status facebook. Syukur kalau yang dibaca merupakan story atau status yang berguna, kalau tidak malah makin memperparah keadaan. Masyarakat Indonesia seharusnya perlu rajin membaca. Dalam hal ini membaca buku atau artikel yang benar dan berguna. Mengapa demikian?

Negara Indonesia lahir dan besar dari hasil membaca. Soekarno, Moh. Hatta, Kartini, dan masih banyak nama besar lainnya merupakan sejumlah tokoh yang telah berjasa membentuk dan membesarkan bangsa Indonesia karena rajin membaca. Konon katanya pada tahun 1916, Soekarno pernah menulis: “Buku mengenalkanku pada dunia dengan pikiran-pikiran terhebat dan aku ingin dunia tahu, aku dan bangsaku juga besar.” Moh. Hatta juga demikian. Ia sangat akrab dengan yang namanya buku. Ia sama sekali tidak sedih dan sepi saat berada di penjara, karena ia mempunyai buku-buku sebagai teman yang selalu menghiburnya. Hal yang sama juga dengan Kartini. Pada tahun 1903 ia menulis: “Aku benamkan diriku dalam membaca dan membaca.” Perkataannya itu kemudian tersirat dalam buku kumpulan surat-suratnya Habis Gelap, Terbitlah Terang. Masuk akal sekali bahwa Soekarno dan para tokoh penting lainnya tidak mungkin punya ide tentang kemerdekaan atau tentang  suatu pemerintahan tanpa membaca. Melalui pemikiran dan informasi dalam buku dari Belanda dan negara-negara lainnya mereka menjadi tahu bahwa kemerdekaan bukan hal yang mustahil untuk orang-orang Indonesia. Sebagaimana mereka adalah pribadi-pribadi pembaca demi Indonesia ini, kita pun harus mau membaca kalau memang kita cinta Indonesia. Sekarang referensi bacaan tersedia di mana-mana. Kita mudah sekali mendapatkannya. Kita bisa langsung ke toko buku terdekat atau ke perpustakaan. Lebih gampang lagi dengan searching di google. Banyak sekali tersedia alamat e-book yang bisa kita download secara gratis di sana.

Apa manfaat membaca untuk masing-masing pribadi? Satu kata yang bisa merangkum banyaknya manfaat membaca adalah seseorang menjadi BERKUALITAS. Kurang lebih ia akan berkualitas dalam 3 aspek: intelektual, sosial, dan fisikal. Secara intelektual seseorang akan memperoleh ilmu atau wawasan yang sangat kaya melalui membaca. Pemikirannya juga semakin tajam dan kreatif. Secara sosial, seseorang yang banyak membaca lebih terbuka dengan semua orang dalam segala perbedaan mereka. Ia tidak mudah terprovokasi oleh omongan-omongan keliru yang merusak kebersamaan dengan orang lain karena dia membaca dari banyak sumber yang terpercaya. Kemudian secara fisik  seseorang akan terbantu dengan membaca karena kebiasaan membaca dapat mencegah terjadinya pikun. Untuk hidup secara keseluruhan, orang yang banyak membaca lebih sering bahagia. Begitu kata Duta baca Indonesia, Najwa Sihab. Maka, marilah kita mulai banyak membaca demi pribadi kita masing-masing dan demi Indonesia tercinta ini!



Komentar