Pemikir Yunani kuno, Herakleitos pernah membangun sebuah keyakinan bahwa realitas pada dasarnya selalu berubah. Itu disebutnya panta rhei. Ia mengumpamakannya dengan seseorang yang turun di sebuah sungai. Orang itu tidak mungkin akan menyentuh air yang sama pada detik selanjutnya.
Kehidupan juga bagi saya adalah perubahan. Kita sudah diterangkan sejak kecil di bangku sekolah bahwa sesuatu dikatakan sebagai makhluk hidup ditandai oleh beberapa ciri, misalnya bergerak, bertumbuh, bernafas, dll. Ciri-ciri itu menunjukkan suatu perubahan yang tidak pernah berhenti. Bukan hanya makhluk hidup, kehidupan secara umum sebagai suatu sistem semesta pun sama. Matahari setiap hari terbit di Timur, bergerak ke Barat, lalu terbenam, dan besoknya terbit lagi. Angin terus bergerak ke mana saja ia mau. Tumbuhan bertumbuh dari biji sampai mengeluarkan daun maupun buah. Batu di malam hari menjadi dingin, lalu di siang hari berubah menjadi panas. Masih banyak contoh lainnya.
Realitas kehidupan manusia di dunia ini juga selalu berubah. Dulu ia di kandungan ibu hanya sebagai paduan sel sperma dan sel telur. Kemudian terus berkembang menjadi janin dan dilahirkan sebagai bayi. Berbagai perubahan fisik pun secara perlahan-lahan terjadi sepanjang hidupnya. Perubahan hidup manusia bukan hanya fisik, tapi juga pikiran, karakter, perasaaan, lingkungan, pekerjaan, hobi, dll. Hidup manusia pada kenyataannya memperlihatkan panorama perubahan itu. Saya yakin tidak ada yang menampik ini.
Ketika hidup dibangun di atas dasar perubahan ini, ada berbagai hal yang perlu disadari. Pertama, segala sesuatu yang terjadi sifatnya sementara. Pada pagi hari kita bisa senang, nanti sore mungkin tidak lagi. Kemarin kita masih punya banyak uang, hari ini mungkin tidak lagi. Beberapa tahun lalu mungkin kita masih kecil, sekarang sudah remaja. Oleh karena itu tidak perlu larut dan lekat pada apa yang terjadi saat ini. Alami saja apa adanya tanpa tinggal tetap di situ sehingga kita mampu mengalami apapun dengan sadar.
Kedua, masa lalu tidak lagi nyata di saat ini. Pikiran dengan kemampuan mengingatnya sering membuat kita membawa kembali peristiwa masa lalu ke saat ini. Peristiwa yang lalu itu tidak dibawa secara nyata, tetapi hanya dalam bentuk ingatan. Jika ingatan itu ditanggapi sebagai suatu kenyataan, pasti akan mempengaruhi perasaan atau emosi kita. Untuk itu, sadarilah hal ini supaya kita tetap bisa mengalami apa yang terjadi saat ini secara penuh tanpa diganggu oleh masa lalu.
Ketiga, obsesi itu gerbang penderitaan. Obsesi mengandaikan kestabilan, tidak berubah. Saat objek obsesi mengalami perubahan, itu akan menciptakan pederitaan yang besar. Fakta perubahan dalam kehidupan tentu menjadi dasar pertimbangan yang baik untuk melenyapkan setiap bibit obsesi dalam diri kita. Obsesi tidak sama dengan cita-cita. Cita-cita adalah tujuan yang mau dicapai. Cita-cita sekadar mengarahkan pandangan dan usaha ke sebuah titik yang jelas. Cita-cita memungkinkan kreativitas dan keterbukaan pada beragam kenyataan. Sedangkan obsesi merupakan kemauan mutlak akan sesuatu. Orang yang terobsesi pada sesuatu cenderung berpikiran tertutup dan tidak kritis. Bahkan ia hanya mengandalkan perasaan, yang lebih banyak menipu kita. Selanjutnya kita justru menderita dan membuat orang menderita.
Keempat, perubahan itu sinar harapan dikala hidup sedang terasa gelap. Ketika kita sadar bahwa hidup ini selalu berubah, ada harapan dalam diri bahwa nanti ada saatnya situasi kegelapan kita lenyap oleh terang. Banyak orang terlalu terbeban memikirkan situasi sulitnya saat ini, misalnya ketika sakit atau belum berhasil dalam suatu usaha. Sikap overthinking itu lebih diakibatkan oleh keyakinan keliru tentang kehidupan, bahwa hidup ini akan sama saja. Persoalan hari ini akan terjadi selamanya. Akhirnya orang terasa mati sebelum benar-benar mati. Ada orang yang juga mengambil tindakan bunuh diri karena ditindih oleh pikiran yang keliru seperti itu.
Kelima, fakta perubahan mengajarkan kita untuk tidak sombong di saat berhasil atau dikala bahagia. Keberhasilan dan kebahagiaan tidak pernah menjadi keadaan yang tidak berubah. Lionel Messi contohnya, tidak selalu menjadi pemain terbaik setiap tahun meskipun dia dianggap sebagai pemain alien yang melebihi pesepakbola di jagat ini. Dia tidak selalu mencetak gol pada setiap pertandingan. Maka, di saat kita berhasil atau di saat kita bahagia, alamilah itu apa adanya dan manfaatkan itu untuk menciptakan kedamaian dan cinta kasih kepada dunia ini.
Komentar
Posting Komentar