Langsung ke konten utama

Kamu Jelek, Itu Bohong

 

    Pada tulisan paling pertama kitab suci kristiani (Kej. 1) termuat dengan sangat jelas bahwa semua yang diciptakan Allah baik adanya. Langit dan bumi, tumbuhan dan binatang baik adanya. Lebih-lebih manusia, dilihat Allah sungguh amat baik (Kej.1: 31). Orang Kristen meyakini bahwa penilaian Allah itu berlaku untuk semua ciptaan dan semua manusia. Dalam artian bahwa apapun dan siapapun yang ada di semesta ini, Tuhan anggap baik. Tuhan menciptakannya dengan baik. Anggapan ini sebaiknya menjadi anggapan manusia juga. Bukan hanya manusia-manusia Kristen tapi juga semua manusia. Setiap orang harus menyadari bahwa dirinya, orang lain, dan seluruh ciptaan di jagat ini baik adanya.

    Kesadaran ini rupanya memudar di jaman sekarang. Terutama kesadaran bahwa fisik atau rupa setiap orang baik adanya. Pudarnya kesadaran ini mengakibatkan beberapa persoalan. Pertama, orang tidak menerima diri apa adanya.  Orang yang seperti ini melihat apa yang ada pada dirinya tidak baik. Hidung pesek tidak disukainya. Rambut keriting dibencinya. Kulit gelap membuatnya malu. Ia kemudian menginginkan apa yang dimiliki orang lain.  

    Kedua, hidupnya tidak membahagiakan. Saat seseorang tidak menyadari dirinya baik adanya, kebahagiaan tidak akan pernah dialaminya. Kebahagiaan itu dianggapnya hanya ada pada orang lain.  Maka ia berusaha untuk mempunyai seperti yang dimiliki oleh orang lain demi kebahagiaan itu. Padahal itu sebenarnya sangat sulit atau bahkan tidak bisa sama sekali.

    Ketiga, hidupnya lebih banyak terisi untuk memoles diri. Saat orang melihat fisiknya masih kurang, ia akan selalu repot untuk memoles dirinya supaya ‘baik’ sesuai keinginannya. Uang banyak dikeluarkannya untuk membeli bahan kosmetik kecantikan. Biaya besar untuk membeli pakaian bagus. Sampai-sampai ada yang mengoperasi bagian tubuh tertentu dengan biaya yang sangat besar demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Waktu berias di depan cermin bisa sampai berlama-lama. Akibatnya, waktu untuk menciptakan karya yang bermakna dilupakan.

    Fakta tersebut punya akar penyebabnya. Beberapa hal kurang lebih seperti berikut ini. Pertama, konsep kecantikan atau ketampanan yang keliru. Sudah sejak kita lahir dan mengalami dunia ini, masyarakat kita memframe apa yang disebut cantik dan tampan. Orang cantik kalau hidungnya mancung, berkulit terang, berambut lurus dengan alis mata yang tidak terlalu tebal. Orang tampan pun sudah ada kriterianya tersendiri. Maka orang yang terlahir dan tidak mempunyai kriteria-kriteria itu tergolong tidak cantik dan tidak tampan. Konsep itu terus dipegang dan menguasai pikiran serta emosi setiap orang.  Orang yang tergolong cantik atau tampan dengan memenuhi kriteria-kriterianya pasti bahagia. Sedangkan orang-orang yang tidak seperti itu pasti sedih, minder, dan tidak menerima dirinya. Konsep adalah ilusi. Konsep itu ciptaan pikiran. Konsep bisa diubah. Konsep tidak mutlak. Maka konsep lama tentang kecantikan dan ketampanan bisa diubah oleh setiap orang. Dengan demikian setiap orang dapat meyakinkan dirinya masing-masing bahwa ia cantik atau ia tampan sesuai kriterianya. Yang penting ia mau menerima keadaannya apa adanya. Tidak perlu mengikuti kriteria kebanyakan orang. Ikut saja pandangan Tuhan bahwa semua orang baik adanya.

    Kedua, hidup dalam bayangan. Orang yang tidak melihat fisiknya baik juga disebabkan oleh kecendrungannya yang senantiasa membayangkan keindahan di luar dirinya. Ia pergi dari dirinya sendiri. Ia terlalu lama memandang dan memikirkan orang lain sampai lupa memandang dirinya sendiri. Sebetulnya orang lain juga menginginkan seperti dirinya. Artinya, ia sesungguhnya mempunyai keindahan itu tapi ia melupakannya karena ia lebih lama memandang orang lain. Oleh karena itu, kita perlu kembali ke diri sendiri, menyadari kecantikan atau ketampanan kita.

    Ketiga, pikiran yang sudah terisi dengan pandangan bahwa fisiknya tidak baik. Pikiran kita, khususnya pikiran bawah sadar yang menyimpan segala informasi dari luar diri kita sudah terlanjur terisi dengan anggapan bahwa kita tidak cantik atau tidak tampan. Tubuh kita tidak sebagus tubuh orang lain. Itu bergema seperti refren yang terus diulang. Kita perlu untuk mengganti refren itu dengan refren lain yang positif tentang diri kita. Caranya dengan melakukan repetisi yaitu terus menerus mengatakan pada diri sendiri bahwa fisik saya sangat bagus sampai pandangan itu tertinggal di alam bawah sadar kita dan menguasai pikiran kita. Bob Proctor pernah menegaskan bahwa betapa pentingnya repetisi untuk membentuk paradigma kehidupan kita yang lebih positif. Dengan sendirinya anggapan tentang fisik yang jelek akan lenyap.

    Rupamu baik adanya. Itu yang Tuhan, penciptamu katakan dengan jujur. Jangan ubah pandangan Tuhan itu dengan pandangan sesatmu sendiri atau pandangan sesat masyarakatmu. Pegang pandangan Tuhan itu supaya perlahan-lahan menjadi pandanganmu juga.  Kalau ada yang bilang kamu jelek, itu bohong.


Komentar