Langsung ke konten utama

Bebas Seperti Di Ring Tinju


Tanggal 17 Agustus lalu kita merayakan ulang tahun kemerdekaan negara kita yang ke-76. Artinya kita sudah dianggap sebagai negara merdeka selama 76 tahun. Negara Indonesia yang merdeka adalah manusia-manusia Indonesia yang merdeka. Pertanyaan paling penting di sini yaitu apakah kita sungguh telah merdeka sebagai manusia? 

Merdeka sama dengan bebas. Namun, bebas dalam pemahaman ini tidak berarti bertindak semena-mena tanpa memperhitungkan segala dampak yang akan terjadi bagi diri sendiri maupun orang lain dan alam semesta ini. Bebas secara positif adalah kemampuan menentukan tindakan yang tepat yang dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan bebas secara negatif adalah keadaan dimana seseorang tidak dihalangi. Kebebasan setiap orang selalu punya titik batas yaitu di hadapan kebebasan orang lain. Dalam filsafat manusia, unsur kebebasan merupakan kata kunci. Kita tidak bisa mengatakan seseorang sebagai manusia jika ruang kebebasannya kita tutup. Setiap orang disebut pribadi (persona) yang ditandai dengan kebebasannya untuk menentukan diri dan masa depan. Pada kenyataannya, sudah sejak lahir kita telah menjadi manusia yang tidak merdeka. Saat sebagai anak-anak, arah hidup dan pola laku kita diarahkan dan bahkan ditentukan sepenuhnya oleh keluarga dan masyarakat kita. Alasannya karena kita belum bisa memikirkan bagaimana kehidupan yang baik ke depannya. Maka kita harus mendengarkan arahan keluarga dan melihat bagaimana kebiasaan masyarakat. Ada kalanya arahan itu bermanfaat, tapi sering juga malah merusak. Mengapa?

Keluarga dan masyarakat sering memakai dalih pengalaman, kebiasaan dan norma sosial sebagai pembenaran untuk diikuti oleh seorang anak.  Padahal tidak semua norma lama masih relevan di saat ini. Tidak semua kebiasaan merupakan kebenaran. Di tengah superioritas pengaruh keluarga dan masyarakat, seorang anak mau tidak mau mengorbankan hasrat dan usaha pribadinya untuk sejalan dengan kebiasaan yang sudah terpola dalam keluarga dan masyarakat. Sampai saat sekolah pun, bahkan setelah itu dalam menentukan pekerjaan maupun jodoh, seseorang masih belum bisa merdeka menentukan pilihannya. Masih banyak orang yang menjadikan pilihan keluarga dan kelompok atau masyarakat sebagai pilihannya. Ia tidak menghargai suara pribadinya. Ia takluk pada suara-suara dari luar dirinya. Pada titik itu, apakah ia sudah bisa dikatakan merdeka?

Ketika abad modern mulai merekah, di Jerman tampil seorang pemikir brilian bernama Emanuel Kant. Ia menggemakan jargon dahsyat yang mampu membangunkan orang-orang Eropa waktu itu dari ketiduran mereka sebagai orang-orang yang ‘tidak merdeka’. Sapere Aude! Beranilah berpikir, demikian ajakan Kant. Kita harus berani berpikir sendiri untuk arah hidup dan masa depan kita. Terutama kalau kita sudah mampu mendengar dengan cermat suara hati kita dan mampu menggunakan akal budi kita secara baik. Keluarga dan kelompok serta masyarakat hanya merupakan pihak-pihak yang membantu memberikan ilmu dan wawasan tentang kehidupan kepada masing-masing kita, tapi bukan penentu pilihan kita. Hidup ini ibarat pertarungan di dalam ring tinju. Sang pelatih berperan sebelum Anda bertarung dengan melatih teknik dan lain sebagainya. Saat Anda bertarung, ia hanya bisa menonton Anda dan sesekali berteriak memberi semangat. Suporter juga hanya berada di luar ring untuk meneriakkan kata-kata dukungan. Fokus Anda saat itu bukan pada suara mereka, tapi pada apa yang mesti Anda lakukan kepada lawan Anda. Maka Andalah yang harus menentukan bagaimana cara paling tepat untuk menaklukkan lawan Anda. Di situlah Anda menjadi sungguh-sungguh merdeka. 

Apakah dengan menentukan pilihan secara bebas seperti itu kita akan selalu menjadi pemenang, tanpa kesalahan dan masalah? Sejujurnya, kehidupan di dunia ini tidak pernah hanya tentang kemenangan atau keberhasilan. Ada saatnya berhasil dan ada saatnya kalah serta salah. Yang penting kita berhasil atau kalah atas dasar pilihan bebas kita, bukan pilihan orang lain di sekitar kita. Secara etis, kita bisa mempertanggungjawabkan perbuatan kita kalau kita secara bebas memilih untuk melakukannya, bukan karena desakan atau anjuran orang lain. Kita harus bertanggung jawab dengan apapun yang kita lakukan, bukan? Ya, kalau kita yang bebas memilih atau melakukannya. Yang paling penting juga, kemerdekaan itu adalah kebahagiaan. Jadilah manusia merdeka supaya bahagia.


 


Komentar