Langsung ke konten utama

Bahagiamu Di Nafasmu


 

Tujuan tertinggi kehidupan manusia menurut Aristoteles adalah kebahagiaan, yang dinamainya eudaimonia. Semua hal yang dilakukan oleh manusia tidak lain demi tujuan akhir tersebut. Manusia menempuh berbagai cara untuk bisa menggapai kebahagiaan itu. Bahkan cara-cara yang tidak terpuji juga nekat diambil. Ada orang juga yang bersusah payah pergi ke tempat yang jauh untuk mengalami kebahagiaan. Ada orang yang bekerja banting tulang bertahun-tahun hanya demi mengalami apa yang dinamakan kebahagiaan. Terkesan kebahagiaan itu susah didapat dan jauh letaknya. Betulkah demikian?

Bahagia itu mudah. Bahagia itu dekat sekali. Ia hanya sejauh dirimu berada. Semakin kita mengejar kebahagiaan, ia akan semakin cepat berlari. Semakin kita sulit mencarinya, ia semakin hilang. Kebahagiaan justru dialami kalau kita berhenti mengejarnya dan membiarkan diri kita tidak lagi mencarinya. Pada titik ini, kita hanya akan berdiam dan kembali ke dalam diri kita. Kita merasakan kehidupan kita yang sebenarnya, yang nyata, bukan khayalan tak pasti. Itulah kebahagiaan kita yang sejati, yaitu ketika kita berdiam dan menyadari kehidupan dalam diri kita.

Amatilah nafasmu. Sadarilah itu. Dialah bahagiamu. Ia menyatu denganmu karena dialah hidupmu. Ia tidak akan pergi sebelum hidupmu di dunia ini berakhir. Ia setia bersamamu. Ia tidak menyakitimu. Ia mencintaimu apa adanya. Ia menghidupkanmu. Janganlah lagi mencari kebahagian lain yang semu. Kebahagiaan yang tidak ada padamu dan yang hari ini didapat tapi besok akan lenyap. Kembalilah dari kepergianmu yang jauh, karena bahagiamu sangat dekat. Bahagiamu di nafasmu.

 

 

 

 

Komentar