Tujuan tertinggi kehidupan
manusia menurut Aristoteles adalah kebahagiaan, yang dinamainya eudaimonia.
Semua hal yang dilakukan oleh manusia tidak lain demi tujuan akhir tersebut.
Manusia menempuh berbagai cara untuk bisa menggapai kebahagiaan itu. Bahkan
cara-cara yang tidak terpuji juga nekat diambil. Ada orang juga yang bersusah
payah pergi ke tempat yang jauh untuk mengalami kebahagiaan. Ada orang yang
bekerja banting tulang bertahun-tahun hanya demi mengalami apa yang dinamakan kebahagiaan.
Terkesan kebahagiaan itu susah didapat dan jauh letaknya. Betulkah demikian?
Bahagia itu mudah. Bahagia itu
dekat sekali. Ia hanya sejauh dirimu berada. Semakin kita mengejar kebahagiaan,
ia akan semakin cepat berlari. Semakin kita sulit mencarinya, ia semakin
hilang. Kebahagiaan justru dialami kalau kita berhenti mengejarnya dan
membiarkan diri kita tidak lagi mencarinya. Pada titik ini, kita hanya akan
berdiam dan kembali ke dalam diri kita. Kita merasakan kehidupan kita yang
sebenarnya, yang nyata, bukan khayalan tak pasti. Itulah kebahagiaan kita yang
sejati, yaitu ketika kita berdiam dan menyadari kehidupan dalam diri kita.
Amatilah nafasmu. Sadarilah itu.
Dialah bahagiamu. Ia menyatu denganmu karena dialah hidupmu. Ia tidak akan
pergi sebelum hidupmu di dunia ini berakhir. Ia setia bersamamu. Ia tidak
menyakitimu. Ia mencintaimu apa adanya. Ia menghidupkanmu. Janganlah lagi mencari
kebahagian lain yang semu. Kebahagiaan yang tidak ada padamu dan yang hari ini
didapat tapi besok akan lenyap. Kembalilah dari kepergianmu yang jauh, karena
bahagiamu sangat dekat. Bahagiamu di nafasmu.
Komentar
Posting Komentar