Manusia mempunyai dimensi khusus yang ‘mungkin’ tidak dimiliki oleh makhluk lain di bumi ini, yaitu dimensi spiritual atau rohaniah. Ada dorongan bawaan dalam diri setiap orang untuk mengungkapkan dimensinya itu kepada yang Maha Tinggi atau kepada yang Ilahi. Demi keperluan itu terbentuklah agama. Dalam bahasa Sansekerta, kata agama terdiri atas dua kata: a (tidak) dan gama (kacau). Jadi sebetulnya agama dibentuk agar setiap orang dapat melaksanakan laku spiritualnya secara teratur tanpa menimbulkan kekacauan dan gangguan bagi orang lain. itulah yang menjadi salah satu tujuan penting dari agama.
Ada banyak agama dengan namanya yang berbeda-beda. Penggolongannya terbagi dalam dua kelompok besar yaitu agama wahyu dan agama bumi. Agama wahyu misalnya katolik dan islam. Sedangkan agama bumi misalnya budha dan hindu. Disebut agama wahyu karena agama tersebut terbentuk dari wahyu Allah sendiri melalui orang pilihanNya. Dinamakan agama bumi karena agama itu lahir dari inspirasi luar biasa seorang manusia. Kiprah agama-agama sudah berlangsung selama ribuan tahun dan sampai sekarang masih juga ada.
Kehadiran agama telah sanggup memberi jawaban atas sejumlah misteri dalam kehidupan manusia, seperti misteri penderitaan dan kematian. Namun, di samping itu kehadiran agama juga menimbulkan berbagai pertanyaan yang cukup menggelitik pikiran orang-orang beragama. Salah satunya, apakah agama itu sebagai pemisah atau pemersatu. Bagi Anda yang beragama, apa yang Anda jawab kalau ditanyakan seperti itu? Mungkin setiap kita memberi jawaban yang berbeda-beda dan unik. Menurut saya sendiri, agama dapat menjadi pemisah dan juga dapat menjadi pemersatu, tergantung konteks dan pijakan kita dalam memberikan jawaban.
Konteks pertama, agama kerapkali menjadi pemisah ketika ada sepasang kekasih berbeda agama yang mau hidup bersama tetapi terhalang karena masing-masing mempertahankan agamanya. Konon, dalam kebiasaan masyarakat kita dua orang yang berbeda agama sangat sulit bisa bersatu membentuk keluarga. Ada pengecualian, misalnya dalam agama katolik yang saya cukup paham ajarannya, perkawinan beda agama (disparitas cultus) diperbolehkan tapi ada beberapa syarat yang tidak gampang untuk dipenuhi. Sayangnya, belum tentu demikian juga pada agama lain. Lebih banyak terjadi, hubungan pasangan beda agama yang mau bersatu menjadi suami istri selalu kandas karena salah seorang dari mereka tidak berpindah ke agama pasangannya.
Konteks lain misalnya ketika melaksanakan ritual keagamaan. Orang-orang yang tadinya bersatu karena bekerja di tempat kerja yang sama atau tinggal di lingkungan yang sama harus berpisah untuk menjalankan ritual di tempat ibadahnya masing-masing. Mungkin masih banyak konteks lain yang menunjukkan bahwa agama pada konteks tertentu dapat menjadi pemisah kehidupan orang-orang.
Selain konteks, agama juga dapat menjadi pemisah kalau pemeluk agamanya berdiri pada ajaran eksklusif yang bertentangan dengan ajaran agama lain. Misalnya dalam ajaran Islam, Yesus yang disebut Isa Al Masih hanya dianggap nabi. Sedangkan dalam pandangan kristiani, Yesus adalah Tuhan. Contoh lain dalam ajaran Budha, kedudukan manusia tidak lebih diistimewakan dari makhluk lain. Sementara itu dalam ajaran kristiani, antroposentrisme yang mengistimewakan posisi manusia sangat kental. Ajaran-ajaran itu biasanya sangat diyakini oleh pemeluknya. Kadang-kadang sikap yakin itu jatuh pada ekstrim fanatisme atau radikalisme sehingga ada sikap menolak eksistensi agama lain. Di situlah agama menjadi pemisah.
Pada sisi yang berbeda, agama juga bisa menjadi pemersatu. Sekali lagi tergantung dalam konteks apa dan atas dasar ajaran mana kita melihatnya. Dalam konteks internal agama itu sendiri, agama lebih cenderung mempersatukan daripada memisahkan satu sama lain. Salah satu arti etimologis agama berarti mengikat atau mempersatukan, yaitu dari kata Bahasa Latin religare. Dari pemahaman itu terkandung maksud utama suatu agama adalah untuk mempersatukan orang-orang yang sebelumnya tercerai-berai. Dalam sebuah agama, setiap penganutnya bersekutu dan bersatu mempraktekkan ritual atau ajaran yang sama untuk menyembah Tuhan yang sama pula. Panorama persatuan paling jelas terlihat kalau para pemeluk agama melaksanakan ritualnya di rumah doanya masing-masing. Dalam konteks lain saat orang menikah seagama juga tampak sekali fungsi agama yang mempersatukan laki-laki dan perempuan yang sebelumnya terpisah.
Bukan hanya konteks, dalam agama juga ada ajaran yang sangat mempersatukan manusia. Misalnya ajaran cinta kasih. Sejauh yang saya tahu, enam agama resmi yang ada di Indonesia semuanya mengajarkan cinta kasih. Cinta kasih selalu mempersatukan dan mendamaikan yang saling bermusuhan. Tidak ada cinta kasih yang memisahkan. Ajaran seperti ini sesungguhnya menjadi pijakan yang baik untuk mengembalikan peran agama sebagai pengikat atau pemersatu, bukan hanya antara orang-orang dalam agama yang sama melainkan juga dengan semua manusia di bumi ini.
Sekali lagi, pada kenyataannya agama bisa menjadi pemisah dan bisa juga jadi pemersatu. Mana yang kita inginkan? Sebagai makhluk sosial, saya yakin kita mau bersatu. Karena itu, cara paling gampang agar kita tetap bersatu sebagai manusia kendatipun agama kita berbeda-beda adalah dengan melepaskan segala konteks dan ajaran agama yang memisahkan. Konteks dan ajaran yang memisahkan itu cukup kita pegang dalam ranah agama kita. Keluar dari itu, tanggalkan. Terimalah perbedaan dan keberagaman sebagai fakta kehidupan. Beda agama bukan menjadi alasan untuk berpisah kalau ada cinta kasih yang mempersatukan. Dasar kehidupan yang paling utama adalah kemanusiaan kita, karena secara manusiawi kita harus bersatu. Kita senantiasa membutuhkan satu sama lain, bukan hanya orang-orang yang seagama dengan kita tapi juga dengan orang-orang beragama lain dan bahkan dengan orang yang tidak beragama.
Komentar
Posting Komentar